Al Imam Adz Dzahabi (673-784 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdillah Adz Dzahabi Al Fariqi. Beliau berasal dari negara Turkumanistan, dan maula Bani Tamim.

KELAHIRANNYA

Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr. Beliau dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewaraan, kezuhudan, kelurusan akidah dan kefasihan lisannya.

GURU-GURUNYA

Beliau menuntut ilmu sejak usia dini, dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu; Ilmu-ilmu Al Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau menempuh perjalanan yang jauh dalam mencari ilmu ke Syam, Mesir dan Hijaz (Mekkah dan Madinah). Beliau mengambil ilmu dari para ulama di negeri-negeri tersebut. Diantara para ulama yang menjadi guru-guru beliau adalah:

1. Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah, yang beliau letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada beliau dalam kitabnya, Mu’jam Asy Syuyukh. Beliau begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, “Dia lebih agung, jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun dan maqam, maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak –Demi Allah, bahkan beliau sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” [Radd Al Wafir (hal. 35)]

2. Al Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurman Al Mizzi, yang dikatakan oleh beliau, “Beliau adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang musykil.” [Ad Durar Al Kaminah (V:235)]

3. Al Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad Al Birzali, yang menyemangati beliau dalam belajar ilmu Hadits. Beliau mengatakan tentangnya, “Beliaulah yang menjadikanku mencintai ilmu Hadits.” [Ad Durar Al Kaminah (III:323)]

Ketiga ulama diatas adalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kepribadian beliau. Adapun guru-guru beliau yang lainnya adalah Umar bin Qawwas, Ahmad bin Hibatullah bin Asakir, Yusuf bin Ahmad Al Ghasuli, Abdul Khaliq bin Ulwan, Zainab binti Umar bin Kindi, Al Abuqi, Isa bin Abdul Mun’im bin Syihab, Ibnu Daqiq Al Ied, Abu Muhammad Ad Dimyathi, Abu Al Abbas Azh Zhahiri, Ali bin Ahmad Al Gharrafi, Yahya bin ahmad Ash Shawwaf, At Tauzari, masih banyak lagi yang lainnya.

Imam Adz Dzahabi memiliki Mu’jam Asy Syuyukh (Daftar Guru-Guru) beliau yang jumlahnya mencapai 3000-an orang. [Adz Dzahabi wa Manhajuh fi Kitabih, Tarikh Al Islam]

MURID-MURIDNYA

Diantara murid beliau adalah Tajuddin As Subki, Muhammad bin Ali Al Husaini, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Rajab, dan masih banyak lagi selain mereka.

PUJIAN PARA ULAMA KEPADA BELIAU

Imam Ibnu Nashruddin Ad Dimasyqi berkata, “Beliau adalah Ayat (tanda kebesaran Allah –red.) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil (ilmu kritik hadits –red.) lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.” [Radd Al Wafir (hal. 13)]

Ibnu Katsir berkata, “Beliau adalah Syaikh Al Hafizh Al Kabir, pakar Tarikh Islam, Syaikh Al Muhadditsin… Beliau adalah penutup syuyukh Hadits dan huffazhnya.” [Al Bidayah wa An Nihayah (XIV:225)]

Tajuddin As Subki berkata, “Beliau adalah syaikh jarh wa ta’dil, pakar rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat, kemudian beliau melihat dan mengungkapkan seja mereka.” [Thabaqah Syafi’iyyah Kubra (IX:101)]

An Nabilisi berkata, “Beliau pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam pemahamannya, cerdas dan ketenarannya sudah mencukupi daripada menyebutkan sifat-sifat nya.” [Ad Durar Al Kaminah (III:427)]

Ash Shafadi berkata, “Beliau seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi, mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang ‘illah dan keadaan-keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan ketidakjelasan dan kekaburan dalam seja manusia. Beliau memiliki akal yang cerdas, benarlah nisbatnya kepada dzahab (emas). Beliau mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam tulisannya dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan, bahkan beliau adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-perkataan ulama, madzhab-madzahab para imam salaf dan para pemilik pemikiran.” [Al Wafi bi Al Wafayat (II:163)]

DIANTARA PERKATAAN-PERKATAAN BELIAU

Imam Adz Dzahabi berkata, “Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam, melainkan ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu Kalam turunan dari ilmu para filosof Atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para Nabi dengan ilmu para Ahli Filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya, maka pasti ia akan menyelisihi para Nabi dan para Ahli Filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para Rasul… Maka sungguh ia telah menempuh jalan salaf, dan menyelamatkan agma dan keyakinannya.” [Mizan Al I’tidal (III:144)]

Beliau menukil perkataan Ma’mar, “Dahulu dikatakan bahwa seseorang menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itu enggan hingga semata-mata untuk Allah.” Kemudian beliau mengomentari perkataan Ma’mar tersebut dengan mengatakan, “Ya, ia awalnya menuntut ilmu atas dorongan kecintaan kepada ilmu, agar menghilangkan kejahilannya, agar mendapat pekerjaan dan yang semacamnya. Ia belum tahu tentang wajibnya ikhlas dalam menuntutnya dan kebenaran niat di dalamnya. Maka jika sudah mengetahuinya, ia hisab dirinya dan takut terhadap akibat buruk dari niatnya yang keliru, maka datanglah kepada niat yang shahih semuanya atau sebagiannya. Kadang ia bertaubat dari niatnya yang keliru dan menyesal. Tanda atas hal itu ialah bahwasanya ia mengurangi dari klaim-klaim, perdebatan dan perasaan memiliki ilmu yang banyak, dan ia hinakan dirinya. Adapun jika ia merasa banyak ilmunya atau mengatakan, ‘Saya lebih berilmu dari pada Fulan,’ maka sungguh celakalah ia.” [Siyar A’lam An Nubala’ (VII:17)]

Beliau berkata, “Yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah hendaknya bertakwa, cerdas, mahir Nahwu, mahir ilmu bahasa, memiliki rasa malu dan bermanhaj salaf.” [Siyar (XIII:380)]

Beliau berkata, “Ahli Hadits sekarang hendaknya memperhatikan Kutub As Sittah, Musnad Ahamd dan Sunan Al Baihaqi. Dan hendaknya teliti terhadap matan-matan dan sanad-sanadnya, kemudian tidak mengambil manfaat dari hal itu hingga ia bertakwa kepada Rabb-nya dan menjadikan Hadits sebagai dasar agama. Kemudian ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tetapi ia adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati, dan syaratnya adalah ittiba’ (mengikuti Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam –red.), dan menjauhkan diri dari hawa nafsu dan kebid’ahan.” [Siyar (XIII:323)]

Beliau berkata, “Kebanyakan ulama pada zaman ini terpaku dengan taklid dalam hal furu’, tidak mau mengembangkan ijtihad, tenggelam dalam logika-logika umat terdahulu dan pemikiran Ahli Filsafat. Dengan demikian, bencana pun meluas, hawa nafsu menjadi hukum dan tanda-tanda tercabutnya ilmu semakin nampak. Semoga Allah memati seseorang yang mau memperhatikan kondisi dirinya, menjaga ucapannya, selalu membaca Al Qur’an, menangis atas kejadian zaman, memperhatikan kitab Ash Shahihain dan beribadah kepada Allah sebelum ajal datang secara tiba-tiba.” [Tadzki Al Huffazh (II:530)]

KARYA-KARYANYA

Beliau memiliki sekitar 100 karya tulis, di antara karya-karya tulis itu adalah:

  1. Al ‘Uluww li Al ‘Aliyyil Ghaffar
  2. Taariikh Al Islam
  3. Siyar A’laam An Nubalaa’
  4. Mukhtashar Tahdziib Al Kamaal
  5. Miizaan Al I’tidaal fii Naqd Ar Rijaal
  6. Thabaqah Al Huffazh
  7. Al Kaasyif fii man Lahu Riwaayah fii Al Kutui As Sittah
  8. Mukhtashar Sunan Al Baihaqi
  9. Halaqah Al Badr fii ‘Adadi Ahli Badr
  10. Thabaqat Al Qurra’
  11. Naba’u Dajjal
  12. Tahdziib At Tahdziib
  13. Tanqiih Ahaadiits At Ta’liiq
  14. Muqtana fii Al Kuna
  15. Al Mughni fii Adh Dhu’afaa’
  16. Al ‘Ibar fii Khabar man Ghabar
  17. Talkhiish Al Mustadrak
  18. Ikhtishar Taarikh Al Kathib
  19. Al Kabaa-ir
  20. Tahriim Al Adbar
  21. Tauqif Ahli Taufiq fii Manaaqib  Ash Shiddiq
  22. Ni’mas Smar fii Manaaqib ‘Umar
  23. At Tibyaan fii Manaaqib ‘Utsman
  24. Fath Al Mathalib fii Akhbaar ‘Ali bin Abi Thalib
  25. Ma Ba’dal Maut
  26. Ikhtishar Kitaabi Al Qadar li Al Baihaqi
  27. Nafdh Al Ja’bah fii Akhbaar Syu’bah
  28. Ikhtishar Kitab Al Jihad, ‘Asakir
  29. Mukhtashar athraafi Al Mizzi
  30. At Tajriid fii Asmaa’ Ash Shahaabah
  31. Mukhtashar Tariikh Naisabuur, Al Hakim
  32. Mukthashar Al Muhalla
  33. Tartiil Maudhuu’at, Ibn Al Jauzi

WAFATNYA

Beliau wafat pada malam Senin 3 Dzulqa’dah 748 H di Damaskus, Syiria, dan dimakamkan di pekuburan Bab Ash Shaghir.

[Sumber: Thabaqah Asy Syafi’iyyah Al Kubra, Tajuddin as-Subki (IX:100-116), Radd Al Wafiir, Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyqi (hal.31-32) , Abjad Al ‘Ulum, Shiddiq Hasan Khan (III:99-100), dan Dzail Tadzkirah Al Huffazh (I:34-37)]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.haulasyiah.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: