Al Imam Asy Syafi’i (150-204 H)

Imam Ahmad bin Han­­­­­­­bal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berpendapat, pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdil Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy Syafi’i.”

NASAB BELIAU

Kun-yah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As Sai’b bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam– pada Abdu Manaf, sedangkan Al Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).

TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN

Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota Asqalan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa beliau pindah ke kota kelahiran Nabi Muhammad –shalallahu ‘alaihi wa sallam, Mekkah al Mukaramah.

PERTUMBUHANNYA

Beliau tumbuh dan berkembang di kota Mekkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.

Setelah itu, beliau mempelajari tata bahasa arab dan syair sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan imam atas orang-orang

KECERDASANNYA

Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:

  1. Kemampuannya menghafal Al Qur’an di luar kepala, pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
  2. Cepatnya menghafal kitab Hadits, Al Muwathta’, karya imam darul hijrah, Imam Malik bin Anas, pada usia sepuluh tahun.
  3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy Syafi’i.
  4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.

Muslim bin Khalid Az Zanji berkata kepada Imam Asy Syafi’i, “Berfatwalah, wahai Abu Abdillah! Sungguh demi Allah, sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”

MENUNTUT ILMU

Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar, setelah hafal Al Qur’an, adalah membaca Hadits. Beliau mengatakan, “Membaca Hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al Qur’an, beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas, kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.

GURU-GURU BELIAU

Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:

  1. Muslim bin Khalid Az Zanji, mufti Mekkah.
  2. Muhammad bin Syafi’, paman beliau sendiri.
  3. Abbas, kakeknya Imam Asy Syafi’i.
  4. Sufyan bin Uyainah.
  5. Fudhail bin Iyadh, serta beberapa ulama yang lain.

Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah, di antara mereka adalah:

  1. Malik bin Anas.
  2. Ibrahim bin Abi Yahya Al Aslami Al Madani.
  3. Abdul Aziz Ad Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad, serta para ulama yang berada pada tingkatannya.

Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman, di antaranya:

  1. Mutharrif bin Mazin.
  2. Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.

Dan di Baghdad, beliau mengambil ilmu dari:

  1. Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
  2. Ismail bin Ulayah.
  3. Abdul Wahab Ats Tsaqafi, serta yang lainnya.

MURID-MURID BELIAU

Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

  1. Ahmad bin Hanbal, ahli Hadits dan sekaligus juga ahli fiqih, serta imam Ahlus sunnah dengan kesepakatan kaum Muslimin.
  2. Al Hasan bin Muhammad Az Za’farani.
  3. Ishaq bin Rahawaih.
  4. Harmalah bin Yahya.
  5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
  6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi, dan lainnya, banyak sekali.

KARYA BELIAU

Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya, sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid-muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental, Ar Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ Al ‘Ilm.

PUJIAN PARA ULAMA KEPADA BELIAU

Benarlah sabda Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam:

(Artinya), “Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” [Hadits. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2419), dan di-shashih-kan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ (6097)]

Begitulah keadaan para imam Ahlussunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy Syafi’i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.

Qutaibah bin Sa’id berkata, “Asy Syafi’i adalah seorang imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats Tsauri wafat, maka hilanglah wara’. Imam Asy Syafi’i wafat, maka matilah Sunnah. Dan apa bila Imam Ahmad bin Hanbal wafat, maka nampaklah kebid’ahan.”

Imam Asy Syafi’i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirussunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Asy Syafi’i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”

Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya (kemudian beliau menyebutkan Ats Tsauri, Al Auza’i, Malik dan Abu Hanifah), melainkan Imam Asy Syafi’i adalah yang paling besar ittiba’-nya kepada Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling sedikit kesalahannya.”

Abu Dawud As Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy Syafi’i satu ucapanpun yang salah.”

Ibrahim bin Abdil Thalib Al Hafizh berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As Sarkhasi tentang Asy Syafi’i, Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih. Maka ia berkata, “Asy Syafi’i adalah yang paling faqih di antara mereka.”

PRINSIP AKIDAH BELIAU

Imam Asy Syafi’i termasuk imam Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyah dan Maturidiyah yang menyimpang dalam akidah, khususnya dalam masalah akidah yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat Allah –Subahanahu wa Ta’ala.

Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam– kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya, maka ia Kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka ia dimaafkan atas kebodohannya. Karena ilmu tentang nama-nama dan sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran.

“Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya, sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,

‘Tidak ada yang menyerupai-Nya sesuatu pun. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ ”

Dalam masalah Al Qur’an, beliau (Imam Asy Syafi’i) mengatakan, “Al Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah). Barangsiapa mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk, maka ia telah Kafir.”

PRINSIP DALAM FIQIH

Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi Hadits yang shahih, maka ambil-lah Hadits yang shahih dan janganlah taklid kepadaku.”

Beliau berkata, “Semua Hadits yang shahih dari Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam– maka itu adalah pendapatku, meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.”

Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapkanlah Sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

SIKAP IMAM ASY SYAFI’I TERHADAP AHLUL BID’AH

Muhammad bin Dawud berkata, “Pada masa Imam Asy Syafi’i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidak dikenal darinya, bahkan beliau benci kepada ahli kalam dan ahli bid’ah.”

Beliau bicara tentang ahli bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin Ulayyah sesat.”

Imam Asy Syafi’i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahli kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta, lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, ‘Ini balasan orang yang meninggalkan Al Kitab dan Sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.’ ”

PESAN IMAM ASY SYAFI’I

“Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

WAFAT BELIAU

Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H, dan umur beliau sekitar 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum Muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy Syafi’i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”

KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY SYAFI’I

“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, takwa dan tsiqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat untukmu.”

[Sumber: Majalah As Salam. Pernah dimuat di www.Ahlussunnah-Jakarta.org]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.kaahil.blogdetik.com, dengan sedikir perbaikkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: