Ilmu Fiqih pada Zaman Tabi’in

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Secara umum, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, sedangkan para tabi’in mengambil pendapat-pendapat tersebut dari para sahabat. Mereka menghafal apa yang mereka dengar berupa Hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa salam dan pendapat-pendapat para sahabat sekaligus memahaminya, mengumpulkan apa saja yang diperselisihkan di kalangan sahabat, dan mentarjih sebagian pendapat atas sebagian yang lainnya. Dalam pendapat mereka, suatu pendapat, meskipun berasal dari para sahabat senior, bisa lenyap (tidak berlaku), semisal pendapat tersebut menyelisihi Hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa salam yang masyhur di tengah-tengah mereka.

Dengan demikian, masing-masing ulama tabi’n memiliki madzhab yang dianutnya, sehingga masing-masing daerah memiliki imam panutan, seperti: Sa’id bin Al Musayyib dan Salim bin Abdillah bin Umar di Madinah. Lalu ulama Madinah yang terkenal setelah mereka adalah Az Zuhri, Yahya bin Sa’id dan Rabi’ah bin Abdirrahman, Atha’ bin Abi Rabah di Mekkah, Ibrahim An Nakha’i dan Asy Sya’bi di Kufah, Al Hasan di Bashrah, Thawus bin Kaisan di Yaman, dan Makhul di Syam.

Allah –Subhanahu wa Ta’ala– menjadikan orang-orang haus akan ilmu mereka, ingin mendapat ilmu serta mengambil darinya Hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa salam, fatwa dan ucapan para sahabat –radhiyallahu anhum ajma’in, serta mengambil madzhab dan penelitian para ulama tersebut. Dan juga meminta fatwa, dan mengajukan berbagai kasus yang berkembang di tengah-tengah mereka kepada para para ulama tersebut.

Sa’id bin Al Musayyib, Ibrahim An Nakha’i –rahimahumallah– dan ulama yang setingkat mereka telah mengumpulkan berbagai masalah fiqih. Sa’id bin Al Musayyib –rahimahullah– dan murid-muridnya berpendapat, penduduk Madinah dan Mekkah adalah orang-orang yang paling paham dalam masalah fiqih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fiqih berdasarkan fatwa Umar, Utsman dan keputusan-keputusan kedua sahabat tersebut, serta fatwa-fatwa Aisyah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhum ajma’in, dan keputusan para ulama Madinah.

Sementara an Nakha’i –rahimahullah– dan murid-muridnya berpendapat bahwa Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu– dan murid-muridnya adalah orang-orang yang paling paham tentang ilmu fiqih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fiqih mereka berdasarkan fatwa-fatwa Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhuma, serta fatwa Syuraih dan para ulama negeri Kufah lainnya.

Jadi, masing-masing kelompok memilki pandangan tersendiri tentang suatu masalah menurut hasil penelitian yang mereka lakukan. Namun, perkara yang sudah menjadi kesepakatan para ulama, mereka pegang dengan kuat. Adapun masalah-masalah ikhtilaf (perselisihan pendapat), mereka pilih mana yang terkuat dan paling rajih. Apabila tidak menemukan jawaban atas suatu persoalan dari hadits-hadits yang mereka hafal, mereka tidak serta merta menggunakan pendapatnya, tetapi terlabih dahulu memperhatikan isyarat dan petunjuk (dari dalil-dalil yang mereka hafal). Dengan cara itu, mereka mendapatkan permasalahan yang cukup banyak dalam setiap bab fiqih. ]

__________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: