Fiqih pada Zaman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Ketahuilah bahwa ilmu fiqih pada zaman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– belum disusun dalam bentuk tulisan, dan pembahasan hukum pada saat itu tidak sebagaimana yang dilakukan oleh fuqaha’ (para ahli fiqih) yang berusaha menjelaskan rukun-rukun, syarat-syarat dan adab-adab. Segala sesuatu dibedakan dari yang lainnya dengan dalil. Mereka memperkirakan gambaran dari amalan yang mereka perkirakan tersebut. Mereka juga memberikan beberapa ketentuan untuk setiap masalah yang menerima ketentuan, membatasi setiap masalah yang menerima batasan dan lain-lain.

Sementara di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–, para sahabat melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– berwudhu, kemudian mereka mengambil tata cara tersebut tanpa menjelaskan: ini rukun wudhu dan ini adabnya. Mereka melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengerjakan shalat, lalu mereka mengerjakannya sebagaimana shalat yang telah mereka lihat. Beliau melaksanakan ibadah haji, lalu para sahabat mengikuti bagaimana cara beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengerjakannya.

Demikianlah kebanyakan cara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, tanpa menjelaskan wajib wudhu itu ada enam atau tujuh. Beliau juga tidak menjelaskan bahwa berwudhu wajib dilakukan secara berturut-turut hingga ditetapkan hukum wudhu tersebut sah atau batal, kecuali yang dikehendaki Allah –Subhanahu wa Ta’ala–. Dan para sahabat jarang sekali bertanya-tanya tentang perkara-perkara seperti ini.

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang masalah yang terjadi saat itu, dan beliau memberikan jawabannya. Orang-orang menyampaikan berbagai kasus kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam–, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penyelesaian terhadap kasus mereka tersebut. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan pujian, jika melihat ada di antara mereka yang melakukan kebajikan; dan mengingkari, jika melihat mereka melakukan suatu kemungkaran. Fatwa yang ditanyakan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam–, keputusan terhadap sebuah kasus, atau pengingkaran beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sebuah kemungkaran, semua itu merupakan perkara yang muncul di tengah-tengah masyarakat pada saat itu. Para sahabat melihat ibadah-ibadah, fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terhadap suatu kasus. Kemudian mereka menghafal dan memahaminya. Mereka mengetahui bahwa tiap-tiap sesuatu memiliki tinjauan dari sisi qarinah (pertautannya). Karena itu, sebagian mereka ada yang mengambil kesimpulan hukum ibahah (boleh), sebagian lainnya menyimpulkan mustahab (dianjurkan) dan sebagian lainnya menyatakan mansukh (sudah dihapuskan ketentuannya) dengan alasan-alasan yang memadai yang mereka miliki. Tidak ada pegangan yang mereka miliki kecuali perasaan tenang yang mereka rasakan, tanpa menghiraukan metode-metode istidlal (pengambilan dalil-dalil, sebagaimana dilakukan para ahli fiqih). Demikianlah kondisi para shahabat hingga berakhir masa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. ]

__________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: