Al Imam Ash Shan’ani (1059-1182 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al Amir Al Kahlani Ash Shan’ani. Beliau dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian beliau pindah bersama ayahnya ke kota Shan’a, ibukota Yaman.

Beliau menimba ilmu dari ulama yang berada di kota Shan’a, lalu kemudian beliau rihlah (melakukan perjalanan) ke kota Mekkah dan membaca Hadits di hadapan para ulama besar yang ada di Mekkah dan Madinah.

Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu sehingga beliau mengalahkan teman-teman seangkatannya. Beliau menampakkan kesungguhannya, berhenti ketika ada dalil, jauh dari taklid dan tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya.

Beliau mendapatkan ujian dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan mendakwahkannya secara terang terangan pada masa-masa penuh fitnah dari orang yang sezaman dengan beliau, Allah –Subhanahu wa Ta’ala– telah menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi beliau dari kejelekan mereka.

Kahlifah Al Manshur, yang termasuk penguasa Yaman, mempercayakan kepada beliau untuk memberikan khutbah di Masjid Jami’ Shan’a. Beliau terus-menerus menyebarkan ilmu dengan mengajar, memberi fatwa dan mengarang. Beliau tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika beliau berada dalam kebenaran dan beliau tidak memperdulikan dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian, sebagaimana telah menimpa orang orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah. Beliau lebih mendahulukan kerihaan Allah di atas keridhaan manusia.

Sangat banyak orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang khusus maupun masyarakat umum, mereka membaca di hadapan beliau berbagai kitab Hadits dan mereka mengamalkan ijtihad-ijtihad beliau, serta menampakkannya kepada orang orang.

Beliau memiliki banyak karangan, diantara karangannya adalah:

  1. Subul As Salam
  2. Minhat Al Ghaffar
  3. Syarh At Tanfih fi Ulum Al Hadits, dan lain lain.

Beliau memiliki karangan-karangan yang lain yang ditulis secara terpisah, yang seandainya dikumpulkan, maka akan menjadi berjilid-jilid.

Beliau memiliki syair yang fasih dan tersusun rapi yang kebanyakan berisi tentang pembahasan-pembahasan ilmiah dan bantahan terhadap orang orang di zaman beliau. Kesimpulannya, beliau adalah seorang ulama yang melakukan pembaharuan terhadap agama.

Beliau wafat pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 1182 H pada umur beliau 123 tahun. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Amin.

[Sumber: Diterjemahkan dari Muqaddimah kitab Subul As Salam. (Disalin dari kitab That-hir Al I’tiqad ‘an Adran Asy Syirk wa Al Ilhad, karya Al Imam Ash Shan’ani –rahimahullah. Penerjemah Abu Athiyah As Sorawaky. Muraja’ah Al Ustadz Abu Abdirrahman Ibnu Yunus. Penerbit Gema Ilmu, 1427 H)]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Al Imam As Suyuthi (849-911 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin bin Al Fakhr Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddin Abi Ash Shalaah Ayub bin Nashiruddin Muhammad bin Asy Syaikh Hammamuddin Al Hamman Al Khadlari As Suyuthi. Lahir ba’da Maghrib, hari Ahad malam, bulan Rajab tahun 849 H, yakni enam tahun sebelum ayah beliau wafat.

ASAL USUL BELIAU

Jalaluddin As Suyuthi berasal dari lingkungan cendekiawan sejak kecilnya. Ayahnya berusaha mengarahkannya ke arah kelurusan dan keshalihan. Adalah beliau, hafal Al Qur’an di usianya yang sangat dini dan selalu diikutkan ayahnya di berbagai majlis ilmu dan berbagai majlis qadhinya.

Dan ayahnya telah memintakan kepada Imam Ibnu Hajar Al Asqalani supaya mendoakannya diberi berkah dan taufiq. Dan adalah ayahnya, melihat dalam diri anaknya seperti yang didapati dalam diri Ibnu Hajar, hingga ketika beliau minum, sebagian diberikan kepada anaknya dan mendoakannya agar ia seperti Ibnu Hajar, menjadi ulama yang trampil dan tokoh penghafal (Hadits). Ayahnya wafat saat beliau (Imam As Suyuthi) baru berumur lima tahun tujuh bulan. Tetapi Allah telah memelihara beliau dengan taufiq dari-Nya dan mengasuh beliau dengan asuhan-Nya. Ini terbukti dengan telah ditakdirkan Allah Ta’ala untuknya Al Allamah Kamaaluddin bin Humam Al Hanafi, pengarang Fath Al Qadir, untuk menjadi guru asuhnya. Hingga hafal Al Qur’an dalam umur delapan tahun, kemudian menghafal kitab Al ‘Umdah, lalu Minhaj Al Fiqh dan Ushul, serta Alfiyah Ibn Malik. Dan mulai menyibukkan diri dengan (menggeluti) ilmu pada tahun 864 H, yakni ketika berumur 15 tahun.

Menimba ilmu fiqih dari Syaikh Sirajuddin Al Balqini. Bahkan bermulazamah kepada beliau hingga wafatnya. Kemudian bermulazamah kepada anak beliau, dan menyimak banyak pelajaran darinya, seperti Al Hawi Ash Shaghir, Al Minhaj, Syarh Al Minhaj dan Ar Raudhah. Belajar Faraidh dari Syaikh Sihabuddin Asy Syarmasahi, dan bermulazamah kepada Asy Syari Al Manawi Abaz Kuriya Yahya bin Muhammad, kakak dari Abdurrauf, pensyarah Al Jami’ Ash Shaghir. Kemudian menimba ilmu bahasa Arab dan ilmu Hadits kepada Taqiyuddin Asy Syamini Al Hanafi (872 H). Lalu bermulazamah kepada Syaikh Muhyiddin Muhammad bin Sulaiman Ar Rumi Al Hanafi selama 14 tahun. Darinya, beliau menimba ilmu tafsir, ilmu Ushul, ilmu bahasa Arab dan ilmu Ma’ani. Juga berguru kepada Jalaluddin Al Mahilli (864 H) dan Izz Al Kinani Ahmad bin Ibrahim Al Hanbali. Dan membaca Shahih Muslim, Asy Syifa, Alfiyah Ibn Malik dan penjelasaannya pada Syamsu As Sairami.

Imam As Suyuthi tidak mau meninggalkan satu cabang ilmu pun, kecuali beliau berusaha untuk mempelajarinya, seperti ilmu hitung dan ilmu faraidh dari Majid bin As-Siba’ dan Abdul Aziz Al Waqai, serta ilmu kedokteran kepada Muhammad bin Ibrahim Ad Diwwani Ar Rumi. Hal ini sesuai dan didukung oleh keadaan waktu itu, di mana beliau dapat menimba ilmu dari banyak syaikh. Beliau tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, baik ilmu bahasa maupun ilmu din (agama), demikian pula beliau tidak merasa cukup dengan para ulama yang telah beliau temui.

Bahkan beliau bepergian jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat Hadits, hingga ke negeri Maghribi (Tanjung Harapan, sebelah ujuh barat pulau Afrika), ke Yaman, India, Syam Mahallah (di Mesir Barat), Diimath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir) dan Fayyum (Mesir), serta negeri-negeri Islam lainnya. Telah menunaikan ibadah haji dan telah minum air zam-zam dengan harapan supaya dapat seperti Syaikh Al Balqini dalam menguasi ilmu Fiqih, serta dapat seperti Ibnu Hajar dalam menguasai ilmu Hadits.

Demikianlah imam yang mulia ini, mengadakan perjalanan yang tidak tanggung-tanggung dengan segala kesusahannya hanya untuk dapat menimba ilmu. Banyak sekali gurunya. Bahkan disebutkan oleh Syaikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani dalam kitab Thabaqat, bahwa guru beliau lebih dari 600-an orang.

Sesuai dengan banyaknya syaikh dan jauhnya perjalanan beliau dalam menimba ilmu, hal itu didukung pula oleh kemampuannya untuk semaksimal mungkin dalam memanfaatkan perpustakaan Madrasah Mahmudiyah. Berkata Al Maqrizi, bahwa di dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab Islam, dan madrasah ini merupakan sebaik-baik madrasah yang ada, yang dinisbatkan kepada Mahmud bin Al Astadar, yang berdirinya pada tahun 897 H. Dan kitab-kitab yang ada tersebut merupakan kitab yang paling lengkap dari yang ada sekarang di Qahirah (Kairo), yang merupakan koleksi dari Burhan bin Jama’ah dan kemudian dibeli oleh Mahmud Al Astadar dengan uang warisannya setelah ia wafat, dan kemudian ia waqafkan.

Hingga matanglah kepribadian As Suyuthi, dan sempurnalah pembentukan ilmunya pada taraf syarat mampu untuk berijtihad. Beliau seorang yang mudah mengerti, kuat hafalannya, dianugerahi Allah dengan otak yang cerdas. Disamping itu, beliau adalah seorang yang ‘abid (ahli ibadah), zuhud dan tawadhu, tidak mau menerima hadiah raja. Pernah beliau diberi hadiah raja Ghuri seorang budak perempuan dan uang banyak sebesar seribu dinar. Maka dikembalikannya uang itu, sedangkan budak perempuan itu dimerdekakannya dan menjadikannya sebagai pelayan di hujrah Nabawi. Lalu beliau berkata kepada sang penguasa itu, “Jangan berusaha memalingkan hanya dengan memberi hadiah semacam itu, karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.”

Oleh karena itu, beliau –rahimahullah– dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam menegakkan hukum-hukum syariat dan mengamalkannya tanpa memihak kepada seorang pun. Tidak takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Beliau telah diminta untuk memberikan fatwa serta urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, maka beliau tetap berusaha untuk adil dan menerapkan hukum-hukum din (agama) tanpa memperdulikan kemarahan umara maupun penguasa. Bahkan, jika beliau melihat ada qadhi (hakim) yang mentakwilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa, bertujuan menjilat mereka, maka beliau menentangnya dan menyatakan pengingkarannya, serta cuci tangan darinya. Menerangkan kesalahannya, dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam kitab Al Istinshar bi Al Wahid Al Qahhar. Beliau terlalu disibukkan dengan memberi pelajaran dan berfatwa sampai umur 40 tahun, kemudian beliau lebih mengkhususkan untuk beribadah dan mengarang kitab. Dan karangan Imam As Suyuthi –rahimahullah– lebih dari 500 buah karangan. Berkata Imam As Suyuthi, “Kalau seandainya aku mau, maka aku mampu untuk menyusun kitab yang membahas setiap masalah dengan segala teori dan dalil-dalil yang kami nukil, qiyasnya, keterangannya, bantahan-bantahannya, jawaban-jawabannya, muwazanahnya antara perselisihan berbagai madzhab tentang masalah itu, dengan fadhilah Allah, tidak dengan daya dan kemampuanku. Karena sesungguhnya tidak ada kekuatan, kecuali dari Allah.”

KITAB-KITABNYA

Adapun kitab-kitab yang disusun oleh Imam As Suyuthi –rahimahullah– antara lain sebagai berikut:

  1. Al Itqaan fii ‘Uluum Al Qur’an
  2. Ad Durr Al Mantsuur fi At Tafsiir Al Ma’tsuur
  3. Tarjumaan Al Qur’an fii At Tafsir
  4. Israaru At Tanziil (atau dinamakan pula dengan Qathful Azhaar fii Kasyfil Asraar)
  5. Lubaab An Nuqul fii Asbaab An Nuzuul
  6. Mifhamaat Al Aqraan fii Mubhamaat Al Qur’an
  7. Al Muhadzdzab fii ma Waqa’a fii Al Qur’an min Al Mu’arrab
  8. Al Ikllil fii Istinbaath At Tanziil
  9. Takmilatu Tafsiir Asy Sayikh Jalaaluddiin Al Mahillii
  10. At Tahiir fii ‘Uluum Tafsiir
  11. Haasyiyah ‘ala Tafsii Al Baidlawii
  12. Tanaasuq Ad Durar fii Tanaasub As Suwari
  13. Maraashid Al Mathaali fii Tanaasub Al Maqaathi’ wa Al Mathaali’
  14. Majma’ Al Bahrain wa Mathaali’ Al Badrain fii At Tafsir
  15. Mafaatih Al Ghaib fii At Tafsiir
  16. Al Azhaar Al Faa-ihah ‘ala Al Fatihah
  17. Syarh Al Isti’adzah wa Al Kasmalah
  18. Al Kalaam ‘ala Awal Al Fath
  19. Syarh Asy Syathibiyyah
  20. Al Alfiyah fii Al Qara’at Al ‘Asyri
  21. Khimaayal Az Zuhri fii Fadha-il As Suwari
  22. Fath Al Jalil li ‘Abdi Adz Dzalil fii Al Anwa’ Al Badi’ah Al Mustakhrijah min Qaulihi Ta’ala: Allaahu Waliyyulladziina aamanu
  23. Al Qaul Al Fashih fii Ta’yiini Adz Dzabiih
  24. Al Yadul Bustha fii Ash Shalaah Al Wustha
  25. Mu’tarak Al Aqraan fii musykilaah Al Qur’an

Semua itu judul-judul buku yang berkenaan dengan Tafsir, adapun yang berkenaan dengan ilmu Hadits, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. ‘Ain Al Ishaabah fii Ma’rifat Ash Shahaabah
  2. Durr Ash Shahaabah fii man Dakhala Mishra min Ash Shahaabah
  3. Husnul Muhaadharah
  4. Riih An Nisriin fii man ‘Aasya min Ash Shahaabah Miata wa ‘Isyriin
  5. Is’aaf Al Mubtha’ bi Rijaal Al Muwaththa’
  6. Kasyf At Talbiis ‘an Qalbi Ahli Tadliis
  7. Taqriib Al Ghariib
  8. Al Madraj ilaa Al Mudraj
  9. Tadzkirah Al Mu’tasi min Hadits man Haddatsa wa Nasiy
  10. Asmaa’ Al Mudallisiin
  11. Al Luma’ fii Asmaa’ man Wadha’
  12. Ar Raudh Al Mukallal wa Warad Al Mu’allal fii Al Mushthalah

WAFATNYA

Imam As Suyuthi –rahimahullah– wafat pada hari Jum’at malam tanggal 19 Jumadil Ula tahun 911 H. Sebelumnya beliau menderita sakit selama tujuh hari, dan akhirnya wafat dalam umur 61 tahun. Dikuburkan di pemakaman Qaushuun atau Qaisun di Kairo.

[Sumber dari kitab Adriib Ar Raawi fii Syarh Taqriib An Nawawii, karya As Suyuthi.]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Al Hafizh Ibnu Hajar (773-852 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama sebenarnya Syihabuddin Abu Al Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar Al Kinani Al Asqalani Asy Syafi’i Al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar dan gelarnya Al Hafizh. Adapun penyebutan Asqalani adalah nisbat kepada Asqalan, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

KELAHIRANNYA

Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun.

Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin Al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnu Al Qaththan Al Mishri.

PERJALANAN ILMIAH IBNU HAJAR

Perjalanan hidup Al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk Kuttab (semacam Taman Pendidikan Al Qur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal Al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti Al ‘Umdah, Al Hawi Ash Shagir, Mukhtashar Ibn Hajib dan Milhat Al I’rab.

Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:

1. Dua tanah haram, yaitu Mekkah dan Madinah. Beliau tinggal di Mekkah Al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjid Al Haram pada tahun 785 H, yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih Al Bukhari di Mrkkah dari Syaikh Al Muhaddits (ahli Hadits) Afifuddin An Naisaburi (An Nasyawari) kemudian Al Makki –rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Mekkah untuk melakukah haji dan umrah.

2. Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu Asakir –rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Al Mulaqqin dan Al Bulqini.

3. Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.

4. Shana’ dan beberapa kota di Yaman, dan menimba ilmu dari mereka.

Semua ini, dilakukan oleh Al Hafizh untuk menimba ilmu dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqlani sangat banyak dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti:

  1. Afifuddin An Naisaburi (An Nasyawari) kemudian Al Makki (wafat 790 H).
  2. Muhammad bin Abdullah bin Zhahirah Al Makki (wafat 717 H).
  3. Abu Al Hasan Al Haitsami (wafat 807 H), Ibnu Al Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin Al Bulqini –rahimahullah– (wafat 805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan Al Hafizh mengajar dan berfatwa.
  4. Kemudian juga, Abu Al Fadhl Al Iraqi (wafat 806 H) –beliaulah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan Al Hafizh, mengagungkannya dan mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah muridnya yang paling pandai dalam bidang Hadits.
  5. Abdurrahim bin Razin –rahimahullah, dari beliau ini Al Hafizh mendengarkan Shahih Al Bukhari.
  6. Al Izz bin Jama’ah –rahimahullah, dan beliau banyak menimba ilmu darinya.
  7. Tercatat juga Al Hummam Al Khawarizmi –rahimahullah.
  8. Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa Arab, Al Hafizh belajar kepada Al Fairuz Abadi –rahimahullah, penyusun kitab Al Qamus (Al Muhith –red.).
  9. Juga kepada Ahmad bin Abdirrahman –rahimahullah.
  10. Untuk masalah Qira’ah As Sab’ (tujuh macam bacaan Al Qur’an), beliau belajar kepada Al Burhan At Tanukhi –rahimahullah, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan Hadits.

Jadi, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir, dan melakukakan rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana kebiasaan para ahli Hadits.

Layaknya sebagai seorang alim yang luas ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ilmi (para penuntut ilmu / murid –red.) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam Ash Shakhawi (wafat 902 H), yang merupakan murid khusus Al Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian Al Biqa’i (wafat 885 H), Zakaria Al Anshari (wafat 926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd Al Makki (wafat 871 H) dan masih banyak lagi yang lainnya.

KARYA-KARYANYA

Kepakaran Al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta’ala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat Islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu Hajar –rahimahullah. Bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau –rahimahullah.

Di antara karya beliau yang terkenal ialah

  1. Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari
  2. Bulugh Al Maram min Adillah Al Ahkam
  3. Al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah
  4. Tahdzib At Tahdzib
  5. Ad Durar Al Kaminah
  6. Taghliq At Ta’liq
  7. Inba’ Al Ghumr bi Anba’ Al Umr, dan lain-lain.

Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam Asy Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan Hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

MENGEMBAN TUGAS SEBAGAI HAKIM

Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu, hilm (tahan emosi), sabar dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara’ (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya, beliau ditawari untuk menjabat sebagai hakim.

Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashadr Al Munawi, menawarkan kepada Al Hafizh untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman. Kemudian, Sulthan Al Muayyad –rahimahullah– menyerahkan kehakiman dalam perkara yang khusus kepada Ibnu Hajar –rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin Al Bulqani –rahimahullah– mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak pihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.

Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa’dah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.

Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga Al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 Rajab. Masyarakat pun sangat bergembira, karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833 H.

Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.

Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim agung. Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabiuts Tsani 852 H, tahun beliau wafat.

Selain kehakiman, beliau juga memilki tugas-tugas:

  • Berkhutbah di Masjid Jami’ Al Azhar.
  • Berkhutbah di Masjid Jami’ Amr bin Al Ash di Kairo.
  • Jabatan memberi fatwa di Gedung Pengadilan.

Di tengah-tengah mengemban tugasnya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir, Hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya, dan mengambil ilmu darinya.

KEDUDUKANNYA

Ibnu Hajar –rahimahullah– menjadi salah satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan ulama, salah satu pemimpin ilmu. Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki, sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.

Seandainya kitab beliau hanya Fath Al Bari, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan kedudukan beliau. Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi –shallallahu ‘alaii wa sallam. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.

Syaikh Al Albani –rahimahullah– mengatakan: Adalah merupakan kezhaliman jika mengatakan mereka (yaitu An Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh Al Albani, meskipun keduanya berakidah Asy’ariyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah. Anggapan mereka, akidah Asy’ariyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam Al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju akidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

WAFATNYA

Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, menurut sangkaan kami, dan kami tidak memuji di hadapan Allah terhadap seorangpun. Beliau dikuburkan di Qarafah Ash Shugra. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, memaafkan dan mengampuninya dengan karunia dan kemurahan-Nya.

[Kitab Al Ajwibah Al Mufidah min As’ilah Al manahij Al Jadidah, Kitab Fath Al Bari, Syaikh Abdul Aziz bin Baz.]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Al Imam Ibnu Daqiq (625-702 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu Al Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ Al Qusyairi Al Manfaluthi Ash Sha’idi Al Maliki Asy Syafi’i. Banyak menulis kitab, dan beliau juga pensyarah Al Arbai’in An Nawawiyyah.

KELAHIRANNYA

Dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 625 H, dekat Yanbu’, Hijaz. Beliau mendengar dari Ibnu Al Muqirah, tetapi beliau ragu mengenai cara pengambilan. Beliau menuturkan dari Ibnu Al Jumaizi, Sabth As Salafi, Al Hafizh Zakiyuddin dan sejumlah kalangan. Sementara di Damaskus, dari Ibnu Abdid Da’im dan Abu Al Baqa’ Khalid bin Yusuf.

KARTA TULISNYA

Beliau menulis Syarh Al Umdah, kitab Al Ilmam, mengerjakan Al Imam fi Al Ahkam, yang seandainya selesai tulisannya, niscaya menca-pai 15 jilid, dan mengerjakan kitab mengenai ilmu-ilmu Hadits.

Beliau salah seorang cendekiawan pada masanya, luas ilmunya, banyak kitab-kitabnya, senantiasa berjaga (untuk shalat malam), senantiasa dalam kesibukan, tenang lagi wara’. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.

Beliau memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai ushul dan ma’qul, serta ahli mengenai ilat-ilat manqul. Menjabat sebagai qadhi di negeri Mesir beberapa tahun hingga meninggal dunia. Beliau, berkenaan dengan masalah bersuci dan air, sangat ragu-ragu.

Al Hafizh Quthbuddin mengatakan, “Syaikh Taqiyuddin adalah imam pada masanya dan termasuk orang yang tinggi dalam ilmu dan kezuhudan dibandingkan sejawatnya. Tahu mengenai dua madzhab, imam mengenai dua prinsip madzhab, hafizh dan seksama dalam Hadits, dan ilmu-ilmunya. Beliau dijadikan perumpamaan mengenai hal itu. Beliau simbol dalam hafalan, keseksamaan dan ketelitian, sangat besar rasa takutnya, senantiasa berdzikir, dan tidak tidur malam, kecuali sedikit. Beliau menghabiskan malamnya di antara menelaah, membaca Al Qur’an, dzikir dan tahajjud, sehingga berjaga menjadi kebiasaannya. Seluruh waktunya diisi dengan suatu yang berguna. Beliau banyak belas kasih kepada orang-orang yang sibuk lagi banyak berbuat kebajikan kepada mereka.

Beliau wafat pada tahun 702 H.

[Disalin dari Biografi Ibnu Daqiq Al Ied dalam Tadzkirah Al Huffazh, Adz Dzahabi]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Al Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama lengkapnya adalah Abu Al Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir Al Qurasyi Al Bushrawi Ad Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di Negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.

RIWAYAT PENDIDIKAN

Ibnu Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim Al Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibnu Asyakir, Ibnu Syairazi, Ishaq bin Yahya bin Al Amidi, Ibnu Zarrad, Al Hafizh Adz Dzahabi serta Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki Al Mizzi, salah seorang ahli Hadits di Syam. Syaikh Al Mizzi ini kemudian menikahkan Ibnu Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

PRESTASI KEILMUAN

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli Hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan ter-shahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir Ath Thabari.

Para ulama mengatakan bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan Al Qur’an dengan As Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang shalih, yakni para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

KARYA IBNU KATSIR

Selain Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah Al Bidayah wa An Nihayah yang berisi kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan Hadits, Ikhtishar ‘Ulum Al Hadits tentang ilmu Hadits, Risalah fi Al Jihad tentang jihad, dan masih banyak lagi.

KESAKSIAN PARA ULAMA

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama, baik di zamannya maupun ulama sesudahnya. Adz Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang mufti (pemberi fatwa), muhaddits (ahli Hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfaat.

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan Hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya, manusia masih dapat mengambil manfaat yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) Hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.”

WAFATNYA

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah.

[Sumber dari Tafsir Al Qur’an, Ibnu Katsir]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Al Imam Adz Dzahabi (673-784 H)

NAMA DAN NASABNYA

Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdillah Adz Dzahabi Al Fariqi. Beliau berasal dari negara Turkumanistan, dan maula Bani Tamim.

KELAHIRANNYA

Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr. Beliau dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewaraan, kezuhudan, kelurusan akidah dan kefasihan lisannya.

GURU-GURUNYA

Beliau menuntut ilmu sejak usia dini, dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu; Ilmu-ilmu Al Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau menempuh perjalanan yang jauh dalam mencari ilmu ke Syam, Mesir dan Hijaz (Mekkah dan Madinah). Beliau mengambil ilmu dari para ulama di negeri-negeri tersebut. Diantara para ulama yang menjadi guru-guru beliau adalah:

1. Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah, yang beliau letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada beliau dalam kitabnya, Mu’jam Asy Syuyukh. Beliau begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, “Dia lebih agung, jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun dan maqam, maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak –Demi Allah, bahkan beliau sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” [Radd Al Wafir (hal. 35)]

2. Al Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurman Al Mizzi, yang dikatakan oleh beliau, “Beliau adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang musykil.” [Ad Durar Al Kaminah (V:235)]

3. Al Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad Al Birzali, yang menyemangati beliau dalam belajar ilmu Hadits. Beliau mengatakan tentangnya, “Beliaulah yang menjadikanku mencintai ilmu Hadits.” [Ad Durar Al Kaminah (III:323)]

Ketiga ulama diatas adalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kepribadian beliau. Adapun guru-guru beliau yang lainnya adalah Umar bin Qawwas, Ahmad bin Hibatullah bin Asakir, Yusuf bin Ahmad Al Ghasuli, Abdul Khaliq bin Ulwan, Zainab binti Umar bin Kindi, Al Abuqi, Isa bin Abdul Mun’im bin Syihab, Ibnu Daqiq Al Ied, Abu Muhammad Ad Dimyathi, Abu Al Abbas Azh Zhahiri, Ali bin Ahmad Al Gharrafi, Yahya bin ahmad Ash Shawwaf, At Tauzari, masih banyak lagi yang lainnya.

Imam Adz Dzahabi memiliki Mu’jam Asy Syuyukh (Daftar Guru-Guru) beliau yang jumlahnya mencapai 3000-an orang. [Adz Dzahabi wa Manhajuh fi Kitabih, Tarikh Al Islam]

MURID-MURIDNYA

Diantara murid beliau adalah Tajuddin As Subki, Muhammad bin Ali Al Husaini, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Rajab, dan masih banyak lagi selain mereka.

PUJIAN PARA ULAMA KEPADA BELIAU

Imam Ibnu Nashruddin Ad Dimasyqi berkata, “Beliau adalah Ayat (tanda kebesaran Allah –red.) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil (ilmu kritik hadits –red.) lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.” [Radd Al Wafir (hal. 13)]

Ibnu Katsir berkata, “Beliau adalah Syaikh Al Hafizh Al Kabir, pakar Tarikh Islam, Syaikh Al Muhadditsin… Beliau adalah penutup syuyukh Hadits dan huffazhnya.” [Al Bidayah wa An Nihayah (XIV:225)]

Tajuddin As Subki berkata, “Beliau adalah syaikh jarh wa ta’dil, pakar rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat, kemudian beliau melihat dan mengungkapkan seja mereka.” [Thabaqah Syafi’iyyah Kubra (IX:101)]

An Nabilisi berkata, “Beliau pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam pemahamannya, cerdas dan ketenarannya sudah mencukupi daripada menyebutkan sifat-sifat nya.” [Ad Durar Al Kaminah (III:427)]

Ash Shafadi berkata, “Beliau seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi, mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang ‘illah dan keadaan-keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan ketidakjelasan dan kekaburan dalam seja manusia. Beliau memiliki akal yang cerdas, benarlah nisbatnya kepada dzahab (emas). Beliau mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam tulisannya dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan, bahkan beliau adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-perkataan ulama, madzhab-madzahab para imam salaf dan para pemilik pemikiran.” [Al Wafi bi Al Wafayat (II:163)]

DIANTARA PERKATAAN-PERKATAAN BELIAU

Imam Adz Dzahabi berkata, “Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam, melainkan ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu Kalam turunan dari ilmu para filosof Atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para Nabi dengan ilmu para Ahli Filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya, maka pasti ia akan menyelisihi para Nabi dan para Ahli Filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para Rasul… Maka sungguh ia telah menempuh jalan salaf, dan menyelamatkan agma dan keyakinannya.” [Mizan Al I’tidal (III:144)]

Beliau menukil perkataan Ma’mar, “Dahulu dikatakan bahwa seseorang menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itu enggan hingga semata-mata untuk Allah.” Kemudian beliau mengomentari perkataan Ma’mar tersebut dengan mengatakan, “Ya, ia awalnya menuntut ilmu atas dorongan kecintaan kepada ilmu, agar menghilangkan kejahilannya, agar mendapat pekerjaan dan yang semacamnya. Ia belum tahu tentang wajibnya ikhlas dalam menuntutnya dan kebenaran niat di dalamnya. Maka jika sudah mengetahuinya, ia hisab dirinya dan takut terhadap akibat buruk dari niatnya yang keliru, maka datanglah kepada niat yang shahih semuanya atau sebagiannya. Kadang ia bertaubat dari niatnya yang keliru dan menyesal. Tanda atas hal itu ialah bahwasanya ia mengurangi dari klaim-klaim, perdebatan dan perasaan memiliki ilmu yang banyak, dan ia hinakan dirinya. Adapun jika ia merasa banyak ilmunya atau mengatakan, ‘Saya lebih berilmu dari pada Fulan,’ maka sungguh celakalah ia.” [Siyar A’lam An Nubala’ (VII:17)]

Beliau berkata, “Yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah hendaknya bertakwa, cerdas, mahir Nahwu, mahir ilmu bahasa, memiliki rasa malu dan bermanhaj salaf.” [Siyar (XIII:380)]

Beliau berkata, “Ahli Hadits sekarang hendaknya memperhatikan Kutub As Sittah, Musnad Ahamd dan Sunan Al Baihaqi. Dan hendaknya teliti terhadap matan-matan dan sanad-sanadnya, kemudian tidak mengambil manfaat dari hal itu hingga ia bertakwa kepada Rabb-nya dan menjadikan Hadits sebagai dasar agama. Kemudian ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tetapi ia adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati, dan syaratnya adalah ittiba’ (mengikuti Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam –red.), dan menjauhkan diri dari hawa nafsu dan kebid’ahan.” [Siyar (XIII:323)]

Beliau berkata, “Kebanyakan ulama pada zaman ini terpaku dengan taklid dalam hal furu’, tidak mau mengembangkan ijtihad, tenggelam dalam logika-logika umat terdahulu dan pemikiran Ahli Filsafat. Dengan demikian, bencana pun meluas, hawa nafsu menjadi hukum dan tanda-tanda tercabutnya ilmu semakin nampak. Semoga Allah memati seseorang yang mau memperhatikan kondisi dirinya, menjaga ucapannya, selalu membaca Al Qur’an, menangis atas kejadian zaman, memperhatikan kitab Ash Shahihain dan beribadah kepada Allah sebelum ajal datang secara tiba-tiba.” [Tadzki Al Huffazh (II:530)]

KARYA-KARYANYA

Beliau memiliki sekitar 100 karya tulis, di antara karya-karya tulis itu adalah:

  1. Al ‘Uluww li Al ‘Aliyyil Ghaffar
  2. Taariikh Al Islam
  3. Siyar A’laam An Nubalaa’
  4. Mukhtashar Tahdziib Al Kamaal
  5. Miizaan Al I’tidaal fii Naqd Ar Rijaal
  6. Thabaqah Al Huffazh
  7. Al Kaasyif fii man Lahu Riwaayah fii Al Kutui As Sittah
  8. Mukhtashar Sunan Al Baihaqi
  9. Halaqah Al Badr fii ‘Adadi Ahli Badr
  10. Thabaqat Al Qurra’
  11. Naba’u Dajjal
  12. Tahdziib At Tahdziib
  13. Tanqiih Ahaadiits At Ta’liiq
  14. Muqtana fii Al Kuna
  15. Al Mughni fii Adh Dhu’afaa’
  16. Al ‘Ibar fii Khabar man Ghabar
  17. Talkhiish Al Mustadrak
  18. Ikhtishar Taarikh Al Kathib
  19. Al Kabaa-ir
  20. Tahriim Al Adbar
  21. Tauqif Ahli Taufiq fii Manaaqib  Ash Shiddiq
  22. Ni’mas Smar fii Manaaqib ‘Umar
  23. At Tibyaan fii Manaaqib ‘Utsman
  24. Fath Al Mathalib fii Akhbaar ‘Ali bin Abi Thalib
  25. Ma Ba’dal Maut
  26. Ikhtishar Kitaabi Al Qadar li Al Baihaqi
  27. Nafdh Al Ja’bah fii Akhbaar Syu’bah
  28. Ikhtishar Kitab Al Jihad, ‘Asakir
  29. Mukhtashar athraafi Al Mizzi
  30. At Tajriid fii Asmaa’ Ash Shahaabah
  31. Mukhtashar Tariikh Naisabuur, Al Hakim
  32. Mukthashar Al Muhalla
  33. Tartiil Maudhuu’at, Ibn Al Jauzi

WAFATNYA

Beliau wafat pada malam Senin 3 Dzulqa’dah 748 H di Damaskus, Syiria, dan dimakamkan di pekuburan Bab Ash Shaghir.

[Sumber: Thabaqah Asy Syafi’iyyah Al Kubra, Tajuddin as-Subki (IX:100-116), Radd Al Wafiir, Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyqi (hal.31-32) , Abjad Al ‘Ulum, Shiddiq Hasan Khan (III:99-100), dan Dzail Tadzkirah Al Huffazh (I:34-37)]

___________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.haulasyiah.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Al Imam An Nawawi (631-676 H)

NASABNYA

Beliau adalah Al Imam Al Hafizh Syaikh Al Islam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizam An Nawawi, dinasabkan dengan Kota Nawa sebuah dusun di daerah Hauran, Suria, dari Damaskus sekitar dua hari perjalanan. Beliau seorang yang bermadzhab Syafi’i, Syaikh Al Madzhab dan seorang fuqaha besar di zamannya. Lahir di bulan Muharam tahun 631 H di desa Nawa, dari dua orang tua yang shalih. Ketika berumur sepuluh tahun, mulai menghafal Al Qur’an dan bacaan-bacaan fiqih kepada para ulama disana.

KEILMUAN BELIAU

Pada suatu hari, ada seorang syaikh yang melewati desa itu, yakni Syaikh Yasin bin Yusuf Al Marakisyi. Beliau melihat seorang anak yang tidak suka bermain-main, bahkan lari darinya sambil menangis karena tidak sukanya, dan lebih suka membaca Al Qur’an. Maka pergilah beliau menemui kedua orang tuanya dan menasehatkan supaya anak itu dikhususkan untuk menimba ilmu. Usulan itu pun diterima. Pada tahun 649 H, (Imam An Nawawi) diajak bapaknya untuk mendapatkan ilmu yang lebih sempurna di Madrasah Dar Al Hadits, dan tinggal di Madrasah Ar Rawahiyah yang berada di pojok timur dari Masjid Al Umawi, Damaskus. Dan beliau di sana menghafal kitab At Tanbih selama empat setengah bulan, dan hafal seperempat bab ibadah dari kitab At Tahdzib, sisa tahunnya. Dan dalam waktu yang singkat, dapat mengundang kekaguman ustadz beliau, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad Al Maghribi, dan menjadikannya asisten dalam pelajarannya.

Beliau –rahimahullah– adalah seorang yang mempunyai wawasan ilmu dan tsaqafah yang luas. Ini dapat dilihat dalam kesungguhannya menimba ilmu. Berkata salah seorang muridnya, yakni Ala-uddin bin Al Aththar, bahwa beliau setiap hari mempelajari dua belas pelajaran, baik syarah-nya maupun tashhih-nya kepada para syaikh beliau. Dua pelajaran pengantar, satu pelajaran muhadzdzab (sopan santun), satu pelajaran gabungan dari dua kitab shahih (Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim –red.), satu pelajaran tentang Shahih Muslim, satu pelajaran kitab Al Lam’u oleh Ibnu Jinni dalam pelajaran Nahwu, satu pelajaran dalam lshlah Al Manthiq oleh Ibnu As Sikiit dalam pelajaran bahasa, satu pelajaran Sharaf, satu pelajaran Ushul Fiqih, dan kadang kitab Al Lam’u oleh Abu Ishaq dan kadang Al Muntakhab oleh Fakhrurrazi; dan satu pelajaran tentang Asma’ Rijal, satu pelajaran Ushuluddin, dan adalah beliau menulis semua hal yang bersangkutan dengan semua pelajaran ini, baik mengenai penjelasan kemusykilannya maupun penjelasan istilah, serta detail bahasanya.

Beliau adalah seorang yang tekun dan telaten dalam mudzakarah dan belajar siang dan malam, selama sekitar dua puluh tahun hingga mencapai puncaknya. Dan beliau tidak makan kecuali sekali saja, yakni ketika sahur. Beliau seorang yang banyak melakukan puasa, dan belum beristri.

Hasilnya tampak jelas ketika beliau mulai mengarang kitab tahun 660 H. Ketika itu, beliau berumur 30 tahun. Sebagian karangan beliau yang paling penting adalah Syarh Shahih Muslim, Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Riyadh Ash Shalihin, Al Adzkar, Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, Arba’in An Nawawiyyah dan Minhaj fi Al Fiqh.

SEORANG ALIM PENASEHAT

Dalam diri Imam An Nawawi tercermin sifat-sifat alim, suka memberi nasihat, seorang yang berjihad di jalan Allah dengan lisannya, menegakkan kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar. Seorang yang mukhlish dalam memberi nasehat, tidak mempunyai tendensi apapun, seorang yang pemberani, tidak takut celaan di jalan Allah terhadap orang yang mencelanya. Seorang yang mempunyai bayan dan hujjah untuk memperkuat dakwaannya.

Beliau dijadikan rujukan oleh manusia bila mereka menghadapi perkara yang sulit dan pelik, serta meminta fatwa kepadanya. Dan beliau menanggapinya serta berusaha memecahkan permasalahannya, seperti ketika berkenaan dengan hukum penyitaan atas dua taman di Syam; ketika Damaskus kedatangan penguasa dari Mesir, dari Raja Bibiris, setelah mereka dapat mengusir pasukan Tartar, maka wakil (pejabat) baitul mal menyangka bahwa kebanyakan dari taman-taman yang berada di Syam tersebut adalah milik negara. Maka sang raja memerintahkan untuk memagarinya, yakni menyitanya.

Maka orang-orang melaporkan hal itu kepada Imam An Nawawi di Dar Al Hadits. Kemudian beliau menulis surat kepada sang penguasa yang dinyatakan di dalamnya sebagai berikut:

“Kaum muslimin merasa dirugikan atas adanya penyitaan hak milik mereka, oleh karena itu mereka menuntut supaya hak milik mereka dikembalikan. Dan penyitaan ini tidak dihalalkan oleh seorang ulama pun dari kalangan kaum Muslimin. Karena barangsiapa yang di tangannya sesuatu, maka dialah pemiliknya, tidak boleh seorang pun merampasnya dan tidak dibenarkan menjadikannya sebagai status miliknya.”

Maka marahlah sang penguasa tersebut terhadap nasehat yang ditujukan kepadanya itu, lalu ia memerintahkan supaya gaji syaikh itu dihentikan dan dicopot dari jabatannya. Akan tetapi orang-orang menyatakan bahwa syaikh itu tidak mendapat gaji dan tidak pula mempunyai jabatan. Akhirnya ketika penguasa itu memandang bahwa tidak bermanfaat lagi surat-menyurat, maka ia pergi sendiri untuk menemui Imam An Nawawi dan hendak mengumpatnya habis-habisan ,dan ia ingin mengamuknya. Akan tetapi Allah memalingkan hati penguasa itu dari berbuat yang demikian itu dan melindungi Imam An Nawawi dari hal semacam itu. Bahkan sang penguasa itu kemudian mencabut penyitaan, dan manusia pun dilepaskan Allah dari kejahatannya.

WAFATNYA BELIAU

Beliau –rahimahullah– wafat pada tahun 676 H setelah menziarahi kubur para guru-gurunya, mengunjungi para sahabat-sahabatnya serta menyatakan selamat berpisah dengan mereka, dan setelah mengunjungi orang tua dan berziarah ke Masjid Al Aqsa dan kuburan Nabi Ibrahim. Kemudian ia kembali ke Desa Nawa, dan kemudian sakit lalu diikuti dengan meninggalnya beliau pada tanggal 24 Rajab. Ketika kabar wafatnya beliau sampai di Damaskus, maka manusia menjadi terkejut dan menangis. Dan kaum Muslimin sangat menyayangkan sekali akan wafatnya beliau. Maka Qadhi Al Qudhat Izzuddin Muhammad bin Ash Shaigh dan serombongan shahabatnya berangkat ke Nawa untuk bertakziyah dan menshalatinya di kuburnya.

[Sumber rujukan: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash Shalihin min Kalam Sayyid Al Mursalin (oleh Imam An Nawawi –rahimahullah) dan Tadrib Ar Rawi fi Syarh Taqrib An Nawawi (oleh Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As Suyuthi)]

________________________________________________________

Sumber:

Disadur dari www.fatwasyafiiyah.blogspot.com, dengan sedikit perbaikan.