Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Kemudian, setelah zaman tabi'in, Allah –Subhanahu wa Ta'ala– menciptakan generasi yang siap mengemban amanah ilmu. Mereka mengambil ilmu dari para tabi'in, dan menjalinnya berdasarkan metode guru-guru mereka. Mereka berpegang teguh dengan hadits-hadits yang bersambung hingga kepada Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam– dan berdalil dengan ucapan-ucapan para sahabat dan tabi'in, karena mereka mengetahui bahwa pendapat para sahabat dan tabi'in tersebut mengandung dua kemungkinan: bisa jadi merupakan hadits yang dinukil dari Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam yang mereka rangkum dan mereka jadikan sebagai hadits mauquf, atau istinbath (penyimpulan hukum) dari nash-nash dan ijtihad mereka dari pendapat mereka.

Para sahabat dan tabi'in telah melakukan yang terbaik dalam semua itu dibandingkan generasi sesudahnya, lebih banyak kebenarannya, lebih dahulu masanya dan lebih dalam ilmunya. Karena itu, pendapat-pendapat mereka harus diamalkan, kecuali jika mereka berselisih dan Hadits Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam benar-benar menyelisihi pendapat mereka.

Generasi setelah tabi'in ini mendapatkan ilham untuk mengadakan pembukuan. Pembukuan ini dilakukan Malik dan Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Dzi'ib di Madinah, Ibnu Juraij dan Ibnu Uyainah di Mekkah, Ats-Tsauri di Kufah, dan Rabi'ah bin Shabih di Bashrah.

Imam Malik –rahimahullah– adalah ulama paling terpercaya dan paling kuat sanadnya dalam hadits-hadits yang diriwayatkan penduduk Madinah dari Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam, paling tahu mengenai keputusan-keputusan Umar –radhiyallahu 'anhu, pendapat-pendapat Abdullah bin Umar –radhiyallahu 'anhuma, Aisyah –radhiyallahu 'anha– dan sahabat-sahabat mereka yang dikenal dengan julukan tujuh fuqaha (ahli fiqih). Berkat beliau dan orang-orang seperti beliau inilah, ilmu riwayat dan fatwa menjadi eksis. Ketika beliau mendapat tugas sebagai hakim, beliau menuturkan Hadits, berfatwa, memberikan kemanfaatan dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Abu Hanifah –rahimahullah– adalah imam yang paling komitmen dengan madzhab Ibrahim An Nakha'i dan teman-temannya. Abu Hanifah –rahimahullah tidak pernah melanggar madzhabnya, kecuali dalam masalah yang dikehendaki Allah –Subhanahu wa Ta'ala. Beliau –rahimahullah memilki kemampuan yang tinggi dalam menerangkan madzhabnya, memiliki pandangan yang akurat dalam mengeluarkan hukum-hukum dan berkecimpung secara penuh dalam cabang-cabang fiqih.

Murid beliau yang paling terkenal adalah Abu Yusuf –rahimahullah–. Sementara di antara murid beliau yang paling baik tulisannya dan paling setia mengikuti pelajaran adalah Muhammad bin Al Hasan –rahimahullah–. Ia mengambil ilmu fiqih dari Abu Hanifah dan Abu Yusuf –rahimahumallah. Kemudian ia pergi ke Madinah dan membaca kitab Al Muwaththa' di hadapan Imam Malik –rahimahullah. Lalu, setelah kembali ke negerinya, masalah demi masalah dalam madzhab Abu Hanifah ia bandingkan dengan kitab Al Muwaththa'. Jika ternyata cocok, ia amalkan. Jika tidak, maka ia memperhatikan: apabila ada sekelompok sahabat atau tabi'in yang berpendapat seperti madzhab sahabatnya (madzhab Hanafi), maka ia pun mengambil pendapat ini. Namun, jika ternyata ia hanya mendapatkan qiyas yang lemah, atau penyimpulan hukum yang bertentangan dengan Hadits shahih yang diamalkan oleh para fuqaha (ahli fiqih) dan berseberangan dengan amalan mayoritas ulama, maka ia tinggalkan pendapat madzhabnya dan memilih madzhab Salaf (pendapat orang-orang terdahulu) yang dipandangnya lebih kuat. Kedua figur ini berusaha tetap berpegang dengan An Nakha'i, seperti dilakukan oleh Abu Hanifah –rahimahullah. Karena itu, kedua orang ini dianggap memiliki satu madzhab dengan madzhab Abu Hanifah, karena memilki ushul (prinsip hukum) yang sama. Padahal kedua orang ini termasuk mujtahid mutlak dan banyak menyelisihi pendapat Abu Hanifah –rahimahullah, baik dalam masalah ushul (prinsip hukum) masalah furu' (cabang).

Kemudian muncul Imam Asy Syafi'i –rahimahullah– pada awal berkembangnya kadua madzhab yang mencakup penyusunan masalah ushul (prinsip) dan furu' (cabang). Imam Asy Syafi'i –rahimahullah– melihat dan meneliti apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, ternyata beliau dapati beberapa perkara yang menjadi ganjalan baginya untuk menempuh jalur mereka, di antaranya:

Pertama, beliau dapati mereka menggunakan hadits-hadits mursal dan munqathi'. Akibatnya muncul kekeliruan-kekliruan.

Kedua, mereka juga belum memilki kaidah yang jelas dalam mengkompromikan hadits-hadits yang terlihat bertentangan, sehingga terjadi beberapa kekliruan dalam ijtihad mereka. Dari sini, Imam Asy Syafi'i meletakkan beberapa kaidah yang ditulisnya dalam sebuah kitab. Inilah kitab pertama yang ditulis dalam bidang ilmu Ushul Fiqih.

Ketiga, pendapat-pendapat para sahabat telah dihimpun di zaman Imam Asy Syafi'i, jumlahnya sangat banyak, berselisih dan berbeda-beda. Beliau melihat banyak diantara pendapat-pendapat tersebut bertentangan dengan Hadits shahih yang belum mereka dengar. Namun, beliau melihat para salaf (orang-orang terdahulu), dalam kondisi seperti ini, senantiasa merujuk kepada Hadits. Karena itu, Asy Syafi'i meninggalkan pendapat para sahabat, selama mereka tidak bersepakat, seraya mengatakan, “Mereka adalah manusia, dan kita juga manusia.”

Keempat, beliau melihat segolongan fuqaha (ahli fiqih) mencampuradukkan pendapat yang tidak diperkenankan syariat dengan qiyas yang mereka tetapkan. Sehingga mereka tidak dapat membedakan, mana yang dikatakan pendapat dan mana yang dikatakan qiyas.

Kesimpulannya, setelah Asy Syafi'i –rahimahullah– melihat beberapa kekeliruan ini, beliau mengambil fiqih langsung dari sumbernya, lalu meletakkan kaidah-kaidah ushul (prinsip), mempraktikkannya dalam berbagai furu' (cabang) dan menyusun buku-buku bermutu dan bermanfaat. Setelah itu, para fuqaha (ahli fiqih) mengambil fiqih darinya, kemudian berpencar ke berbagai negeri. Dari sinilah mulai tersebar madzhab Asy Syafi'i. ]

_________________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Ilmu Fiqih pada Zaman Tabi’in

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Secara umum, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, sedangkan para tabi'in mengambil pendapat-pendapat tersebut dari para sahabat. Mereka menghafal apa yang mereka dengar berupa Hadits dari Nabi –shallallahu 'alaihi wa salam dan pendapat-pendapat para sahabat sekaligus memahaminya, mengumpulkan apa saja yang diperselisihkan di kalangan sahabat, dan mentarjih sebagian pendapat atas sebagian yang lainnya. Dalam pendapat mereka, suatu pendapat, meskipun berasal dari para sahabat senior, bisa lenyap (tidak berlaku), semisal pendapat tersebut menyelisihi Hadits Nabi –shallallahu 'alaihi wa salam yang masyhur di tengah-tengah mereka.

Dengan demikian, masing-masing ulama tabi'n memiliki madzhab yang dianutnya, sehingga masing-masing daerah memiliki imam panutan, seperti: Sa'id bin Al Musayyib dan Salim bin Abdillah bin Umar di Madinah. Lalu ulama Madinah yang terkenal setelah mereka adalah Az Zuhri, Yahya bin Sa'id dan Rabi'ah bin Abdirrahman, Atha' bin Abi Rabah di Mekkah, Ibrahim An Nakha'i dan Asy Sya'bi di Kufah, Al Hasan di Bashrah, Thawus bin Kaisan di Yaman, dan Makhul di Syam.

Allah –Subhanahu wa Ta'ala– menjadikan orang-orang haus akan ilmu mereka, ingin mendapat ilmu serta mengambil darinya Hadits Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa salam, fatwa dan ucapan para sahabat –radhiyallahu anhum ajma'in, serta mengambil madzhab dan penelitian para ulama tersebut. Dan juga meminta fatwa, dan mengajukan berbagai kasus yang berkembang di tengah-tengah mereka kepada para para ulama tersebut.

Sa'id bin Al Musayyib, Ibrahim An Nakha'i –rahimahumallah– dan ulama yang setingkat mereka telah mengumpulkan berbagai masalah fiqih. Sa'id bin Al Musayyib –rahimahullah– dan murid-muridnya berpendapat, penduduk Madinah dan Mekkah adalah orang-orang yang paling paham dalam masalah fiqih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fiqih berdasarkan fatwa Umar, Utsman dan keputusan-keputusan kedua sahabat tersebut, serta fatwa-fatwa Aisyah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas –radhiyallahu 'anhum ajma'in, dan keputusan para ulama Madinah.

Sementara an Nakha'i –rahimahullah– dan murid-muridnya berpendapat bahwa Ibnu Mas'ud –radhiyallahu anhu– dan murid-muridnya adalah orang-orang yang paling paham tentang ilmu fiqih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fiqih mereka berdasarkan fatwa-fatwa Ibnu Mas'ud dan Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu 'anhuma, serta fatwa Syuraih dan para ulama negeri Kufah lainnya.

Jadi, masing-masing kelompok memilki pandangan tersendiri tentang suatu masalah menurut hasil penelitian yang mereka lakukan. Namun, perkara yang sudah menjadi kesepakatan para ulama, mereka pegang dengan kuat. Adapun masalah-masalah ikhtilaf (perselisihan pendapat), mereka pilih mana yang terkuat dan paling rajih. Apabila tidak menemukan jawaban atas suatu persoalan dari hadits-hadits yang mereka hafal, mereka tidak serta merta menggunakan pendapatnya, tetapi terlabih dahulu memperhatikan isyarat dan petunjuk (dari dalil-dalil yang mereka hafal). Dengan cara itu, mereka mendapatkan permasalahan yang cukup banyak dalam setiap bab fiqih. ]

__________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.