Ilmu Fiqih Setelah Zaman Tabi’in

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Kemudian, setelah zaman tabi'in, Allah –Subhanahu wa Ta'ala– menciptakan generasi yang siap mengemban amanah ilmu. Mereka mengambil ilmu dari para tabi'in, dan menjalinnya berdasarkan metode guru-guru mereka. Mereka berpegang teguh dengan hadits-hadits yang bersambung hingga kepada Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam– dan berdalil dengan ucapan-ucapan para sahabat dan tabi'in, karena mereka mengetahui bahwa pendapat para sahabat dan tabi'in tersebut mengandung dua kemungkinan: bisa jadi merupakan hadits yang dinukil dari Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam yang mereka rangkum dan mereka jadikan sebagai hadits mauquf, atau istinbath (penyimpulan hukum) dari nash-nash dan ijtihad mereka dari pendapat mereka.

Para sahabat dan tabi'in telah melakukan yang terbaik dalam semua itu dibandingkan generasi sesudahnya, lebih banyak kebenarannya, lebih dahulu masanya dan lebih dalam ilmunya. Karena itu, pendapat-pendapat mereka harus diamalkan, kecuali jika mereka berselisih dan Hadits Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam benar-benar menyelisihi pendapat mereka.

Generasi setelah tabi'in ini mendapatkan ilham untuk mengadakan pembukuan. Pembukuan ini dilakukan Malik dan Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Dzi'ib di Madinah, Ibnu Juraij dan Ibnu Uyainah di Mekkah, Ats-Tsauri di Kufah, dan Rabi'ah bin Shabih di Bashrah.

Imam Malik –rahimahullah– adalah ulama paling terpercaya dan paling kuat sanadnya dalam hadits-hadits yang diriwayatkan penduduk Madinah dari Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam, paling tahu mengenai keputusan-keputusan Umar –radhiyallahu 'anhu, pendapat-pendapat Abdullah bin Umar –radhiyallahu 'anhuma, Aisyah –radhiyallahu 'anha– dan sahabat-sahabat mereka yang dikenal dengan julukan tujuh fuqaha (ahli fiqih). Berkat beliau dan orang-orang seperti beliau inilah, ilmu riwayat dan fatwa menjadi eksis. Ketika beliau mendapat tugas sebagai hakim, beliau menuturkan Hadits, berfatwa, memberikan kemanfaatan dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Abu Hanifah –rahimahullah– adalah imam yang paling komitmen dengan madzhab Ibrahim An Nakha'i dan teman-temannya. Abu Hanifah –rahimahullah tidak pernah melanggar madzhabnya, kecuali dalam masalah yang dikehendaki Allah –Subhanahu wa Ta'ala. Beliau –rahimahullah memilki kemampuan yang tinggi dalam menerangkan madzhabnya, memiliki pandangan yang akurat dalam mengeluarkan hukum-hukum dan berkecimpung secara penuh dalam cabang-cabang fiqih.

Murid beliau yang paling terkenal adalah Abu Yusuf –rahimahullah–. Sementara di antara murid beliau yang paling baik tulisannya dan paling setia mengikuti pelajaran adalah Muhammad bin Al Hasan –rahimahullah–. Ia mengambil ilmu fiqih dari Abu Hanifah dan Abu Yusuf –rahimahumallah. Kemudian ia pergi ke Madinah dan membaca kitab Al Muwaththa' di hadapan Imam Malik –rahimahullah. Lalu, setelah kembali ke negerinya, masalah demi masalah dalam madzhab Abu Hanifah ia bandingkan dengan kitab Al Muwaththa'. Jika ternyata cocok, ia amalkan. Jika tidak, maka ia memperhatikan: apabila ada sekelompok sahabat atau tabi'in yang berpendapat seperti madzhab sahabatnya (madzhab Hanafi), maka ia pun mengambil pendapat ini. Namun, jika ternyata ia hanya mendapatkan qiyas yang lemah, atau penyimpulan hukum yang bertentangan dengan Hadits shahih yang diamalkan oleh para fuqaha (ahli fiqih) dan berseberangan dengan amalan mayoritas ulama, maka ia tinggalkan pendapat madzhabnya dan memilih madzhab Salaf (pendapat orang-orang terdahulu) yang dipandangnya lebih kuat. Kedua figur ini berusaha tetap berpegang dengan An Nakha'i, seperti dilakukan oleh Abu Hanifah –rahimahullah. Karena itu, kedua orang ini dianggap memiliki satu madzhab dengan madzhab Abu Hanifah, karena memilki ushul (prinsip hukum) yang sama. Padahal kedua orang ini termasuk mujtahid mutlak dan banyak menyelisihi pendapat Abu Hanifah –rahimahullah, baik dalam masalah ushul (prinsip hukum) masalah furu' (cabang).

Kemudian muncul Imam Asy Syafi'i –rahimahullah– pada awal berkembangnya kadua madzhab yang mencakup penyusunan masalah ushul (prinsip) dan furu' (cabang). Imam Asy Syafi'i –rahimahullah– melihat dan meneliti apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, ternyata beliau dapati beberapa perkara yang menjadi ganjalan baginya untuk menempuh jalur mereka, di antaranya:

Pertama, beliau dapati mereka menggunakan hadits-hadits mursal dan munqathi'. Akibatnya muncul kekeliruan-kekliruan.

Kedua, mereka juga belum memilki kaidah yang jelas dalam mengkompromikan hadits-hadits yang terlihat bertentangan, sehingga terjadi beberapa kekliruan dalam ijtihad mereka. Dari sini, Imam Asy Syafi'i meletakkan beberapa kaidah yang ditulisnya dalam sebuah kitab. Inilah kitab pertama yang ditulis dalam bidang ilmu Ushul Fiqih.

Ketiga, pendapat-pendapat para sahabat telah dihimpun di zaman Imam Asy Syafi'i, jumlahnya sangat banyak, berselisih dan berbeda-beda. Beliau melihat banyak diantara pendapat-pendapat tersebut bertentangan dengan Hadits shahih yang belum mereka dengar. Namun, beliau melihat para salaf (orang-orang terdahulu), dalam kondisi seperti ini, senantiasa merujuk kepada Hadits. Karena itu, Asy Syafi'i meninggalkan pendapat para sahabat, selama mereka tidak bersepakat, seraya mengatakan, “Mereka adalah manusia, dan kita juga manusia.”

Keempat, beliau melihat segolongan fuqaha (ahli fiqih) mencampuradukkan pendapat yang tidak diperkenankan syariat dengan qiyas yang mereka tetapkan. Sehingga mereka tidak dapat membedakan, mana yang dikatakan pendapat dan mana yang dikatakan qiyas.

Kesimpulannya, setelah Asy Syafi'i –rahimahullah– melihat beberapa kekeliruan ini, beliau mengambil fiqih langsung dari sumbernya, lalu meletakkan kaidah-kaidah ushul (prinsip), mempraktikkannya dalam berbagai furu' (cabang) dan menyusun buku-buku bermutu dan bermanfaat. Setelah itu, para fuqaha (ahli fiqih) mengambil fiqih darinya, kemudian berpencar ke berbagai negeri. Dari sinilah mulai tersebar madzhab Asy Syafi'i. ]

_________________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Ilmu Fiqih pada Zaman Tabi’in

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Secara umum, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, sedangkan para tabi'in mengambil pendapat-pendapat tersebut dari para sahabat. Mereka menghafal apa yang mereka dengar berupa Hadits dari Nabi –shallallahu 'alaihi wa salam dan pendapat-pendapat para sahabat sekaligus memahaminya, mengumpulkan apa saja yang diperselisihkan di kalangan sahabat, dan mentarjih sebagian pendapat atas sebagian yang lainnya. Dalam pendapat mereka, suatu pendapat, meskipun berasal dari para sahabat senior, bisa lenyap (tidak berlaku), semisal pendapat tersebut menyelisihi Hadits Nabi –shallallahu 'alaihi wa salam yang masyhur di tengah-tengah mereka.

Dengan demikian, masing-masing ulama tabi'n memiliki madzhab yang dianutnya, sehingga masing-masing daerah memiliki imam panutan, seperti: Sa'id bin Al Musayyib dan Salim bin Abdillah bin Umar di Madinah. Lalu ulama Madinah yang terkenal setelah mereka adalah Az Zuhri, Yahya bin Sa'id dan Rabi'ah bin Abdirrahman, Atha' bin Abi Rabah di Mekkah, Ibrahim An Nakha'i dan Asy Sya'bi di Kufah, Al Hasan di Bashrah, Thawus bin Kaisan di Yaman, dan Makhul di Syam.

Allah –Subhanahu wa Ta'ala– menjadikan orang-orang haus akan ilmu mereka, ingin mendapat ilmu serta mengambil darinya Hadits Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa salam, fatwa dan ucapan para sahabat –radhiyallahu anhum ajma'in, serta mengambil madzhab dan penelitian para ulama tersebut. Dan juga meminta fatwa, dan mengajukan berbagai kasus yang berkembang di tengah-tengah mereka kepada para para ulama tersebut.

Sa'id bin Al Musayyib, Ibrahim An Nakha'i –rahimahumallah– dan ulama yang setingkat mereka telah mengumpulkan berbagai masalah fiqih. Sa'id bin Al Musayyib –rahimahullah– dan murid-muridnya berpendapat, penduduk Madinah dan Mekkah adalah orang-orang yang paling paham dalam masalah fiqih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fiqih berdasarkan fatwa Umar, Utsman dan keputusan-keputusan kedua sahabat tersebut, serta fatwa-fatwa Aisyah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas –radhiyallahu 'anhum ajma'in, dan keputusan para ulama Madinah.

Sementara an Nakha'i –rahimahullah– dan murid-muridnya berpendapat bahwa Ibnu Mas'ud –radhiyallahu anhu– dan murid-muridnya adalah orang-orang yang paling paham tentang ilmu fiqih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fiqih mereka berdasarkan fatwa-fatwa Ibnu Mas'ud dan Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu 'anhuma, serta fatwa Syuraih dan para ulama negeri Kufah lainnya.

Jadi, masing-masing kelompok memilki pandangan tersendiri tentang suatu masalah menurut hasil penelitian yang mereka lakukan. Namun, perkara yang sudah menjadi kesepakatan para ulama, mereka pegang dengan kuat. Adapun masalah-masalah ikhtilaf (perselisihan pendapat), mereka pilih mana yang terkuat dan paling rajih. Apabila tidak menemukan jawaban atas suatu persoalan dari hadits-hadits yang mereka hafal, mereka tidak serta merta menggunakan pendapatnya, tetapi terlabih dahulu memperhatikan isyarat dan petunjuk (dari dalil-dalil yang mereka hafal). Dengan cara itu, mereka mendapatkan permasalahan yang cukup banyak dalam setiap bab fiqih. ]

__________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Ilmu Fiqih pada Zaman Sahabat -radhiyallahu ‘anhum ajma’in-

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin as Sayyid:

[ Pada zaman ini para sahabat berpencar-pencar di berbagai daerah dan mereka menempati posisi sebagai panutan di daerah yang mereka tempati. Ketika muncul berbagai kasus dan masalah, mereka memberikan fatwa terhadap setiap kasus dan masalah tersebut. Masing-masing dari mereka memberikan jawaban sesuai dengan apa yang mereka hafal atau yang mereka simpulkan dari sabda Nabi –shalallahu 'alaihi wa sallam.

Jika mereka tidak menemukan jawaban yang cocok dari apa yang mereka hafal dan yang mereka simpulkan dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, maka mereka melakukan ijtihad dengan ra'yu mereka dan mencocokkan dengan 'illah di mana Nabi –shalallahu 'alaihi wa sallam– menjalankan hukum padanya dalam nash-nashnya. Dengan cara inilah mereka melakukan pengqiyasan hukum dengan berbagai masalah yang mereka dapati. Upaya ini mereka lakukan agar setiap permasalahan diselesaikan sesuai hukum yang diinginkan Nabi –shalallahu 'alaihi wa sallam.

Sebab dan Bentuk Perbedaan Pendapat di Kalangan Sahabat

Ketika itulah terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:

Pertama, di antara sahabat ada yang pernah mendengar sebuah hukum dalam suatu kasus atau fatwa dari Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam, sementara sahabat yang lainnya tidak mendengarnya, lalu ia berijtihad dengan pendapatnya mengenai hal itu. Mengenai hal ini ada beberapa bentuk:

a. Hasil ijtihad mereka sesuai dengan Hadits.

Contohnya, Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud –radhiyallahu 'anhu pernah memberikan keputusan seperti itu terhadap salah seorang dari mereka. Mendengar pernyataan Ma'qal –radhiyallahu 'anhu– tersebut, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu– bergembira dengan kegembiraan yang belum pernah dirasakannya sejak keislamannya.

b. Terjadi adu argumentasi antara kedua shahabat tersebut.

Hingga nyata baginya sisi pendalilan dari sebuah Hadits, lalu mencabut hasil ijtihad yang dilakukannya dan kembali kepada Hadits yang telah didengarnya.

Contohnya, Abu Hurairah –radhiyallahu 'anhu– termasuk salah seorang sahabat yang berpendapat, barangsiapa yang pada pagi hari di bulan Ramadhan dalam keadaan junub, maka puasanya tidak sah. Pendapat ini tetap ia pegang, hingga ia mendengar Hadits dari sebagian istri Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam yang bertentangan dengan pendapatnya, lalu ia mencabut pendapatnya itu.

c. Suatu hadits sampai kepada mereka.

Namun, menurut perkiraan mereka, kemungkinan besar tidak seperti itu. Bahkan mereka meragukan kebenaran Hadits tersebut.

Contohnya, Fathimah binti Qais –radhiyallahu 'anha memberikan persaksiannya di hadapan Umar bin al Khaththab –radhiyallahu 'anhu, ia ditalak dengan talak tiga, dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memutuskan bahwa dirinya tidak berhak lagi menerima nafkah dan tempat tinggal. Namun Umar radhiyallahu 'anhu– menolak persaksiannya seraya berkata, “Tidak mungkin kita meninggalkan al Qur'an hanya berdasarkan ucapan wanita yang tidak diketahui: apakah ia berkata benar atau dusta.”

Kemudian Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, “Wahai Fathimah, bertakwalah kepada Allah!” Yakni berkenaan dengan ucapannya: tidak menerima nafkah dan tempat tinggal.

d. Mereka tidak mendengar Hadits sama sekali.

Contohnya, Ibnu Amr –radhiyallahu 'anhu– pernah memerintahkan kepada istrinya, apabila mandi junub, agar membuka semua ikatan pintalan rambut. Mendengar hal itu, Aisyah –radhiyallahu 'anha berkata, “Sungguh aneh sekali Ibnu Amr ini. Ia memerintahkan agar wanita membuka semua pintalan rambut ketika mandi junub. Mengapa tidak ia perintahkan saja para wanita untuk mencukur semua rambutnya? Padahal dahulu aku mandi bersama Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam dari satu bejana, dan pada saat itu aku hanya menuangkan air ke kepalaku sebanyak tiga cidukan tangan, tidak lebih dari itu.”

Kedua, para sahabat  melihat Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam melakukan suatu amalan, lalu sebagian sahabat ada yang menyimpulkan amalan tersebut sebagai qurbah (ibadah), dan sebagian yang lainnya menyimpulkannya sebagai kemubahan.

Contohnya, para sahabat melihat Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam berlari kecil ketika melakukan thawaf. Mayoritas sahabat berpendapat, berlari kecil ketika melakukan thawaf, hukumnya sunnah. Sementara Ibnu Abbas –radhiyallahu 'anhuma berpendapat, Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal itu untuk maksud tertentu, yakni untuk membatalkan ucapan orang-orang Musyrik, “Orang-orang Islam telah dihancurkan oleh demam Madinah.” (Jadi beliau melakukan itu untuk menunjukkan kekuatan kaum Muslimin) bukan karena disunnahkan.

Ketiga, ikhtilaf (perselisihan pendapat) karena faktor dugaan. Contohnya, para sahabat menyaksikan haji yang dikerjakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Lalu sebagian sahabat mengira, ketika itu beliau melakukan haji tamattu', sebagian lagi mengira, beliau mengerjkan haji qiran, sebagian lainnya mengira bahwa beliau mengerjakan haji ifrad.

Keempat, ikhtilaf karena lupa. Contohnya, riwayat yang menyebutkan, Ibnu Umar –radhiyallahu 'anhuma berkata, “Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan umrah pada bulan Rajab.” Ketika mendengar hal itu, Aisyah –radhiyallahu 'anha berkomentar bahwa Ibnu Umar –radhiyallahu 'anhuma– lupa.

Kelima, ikhtilaf akibat kesimpulan yang kurang akurat. Contohnya, Ibnu Umar –radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan dari Nabi –shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(Artinya), “Sesungguhnya mayat akan disiksa disebabkan keluarganya menangisinya.

Aisyah –radhiyallahu 'anha– memberikan komentar bahwa ini merupakan dugaan dari Ibnu Umar –radhiyallahu 'anhuma yang keliru dalam memahami Hadits. Kisah sebenarnya, ketika Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam melewati jenazah wanita Yahudi yang sedang ditangisi oleh keluarganya, maka beliau bersabda:

(Artinya), “Mereka itu menangisinya, padahal mayat tersebut disiksa di kuburannya.

Tapi Ibnu Umar –radhiyallahu 'anhuma– mengira, siksa tersebut disebabkan oleh tangisan, dan juga mengira, hukuman tersebut umum untuk semua mayat.

Keenam, ikhtilaf dalam menentukan 'illah sebuah hukum. Contohnya, masalah bediri untuk jenazah. Sebagian berpendapat, berdiri ini dimaksudkan untuk menghormati para Malaikat. Dengan demikian hukum berdiri ini umum untuk jenazah Mukmin dan kafir. Ada yang berpendapat, berdiri ini dilakukan karena mengingat dahsyatnya prahara kematian. Berarti hukum ini juga umum untuk jenazah Mukmin dan kafir. Ada pula yang berpendapat, Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam berdiri ketika jenazah Yahudi melintas, karena beliau tidak suka jika posisi jenazah tersebut lebih tinggi dari kepala beliau. Dengan demikian, hukum ini khusus untuk jenazah kafir saja.

Ketujuh, ikhtilaf dalam mengkompromikan dua pendapat yang berbeda. Contohnya, Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam melarang menghadap  kiblat ketika buang hajat, lalu suatu kaum berpendapat tentang keumuman hukum ini dan ketentuan ini tidak mansukh (dihapuskan). Jabir –radhiyallahu 'anhu pernah melihat beliau –shalallahu 'alaihi wa sallam buang air kecil sambil menghadap kiblat, satu tahun sebelum beliau wafat, sehingga ia berpendapat bahwa hukum larangan sudah mansukh (dihapuskan). Sementara Ibnu Umar –radhiyallahu 'anhuma sendiri pernah melihat beliau –shalallahu 'alaihi wa sallam buang hajat sambil menghadap kiblat, sehingga ia membantah pendapat lain yang berlainan dengan hal itu. ]

__________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Fiqih pada Zaman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Berikut ini penjelasan Abu Malik Kamal bin As Sayyid:

[ Ketahuilah bahwa ilmu fiqih pada zaman Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam– belum disusun dalam bentuk tulisan, dan pembahasan hukum pada saat itu tidak sebagaimana yang dilakukan oleh fuqaha' (para ahli fiqih) yang berusaha menjelaskan rukun-rukun, syarat-syarat dan adab-adab. Segala sesuatu dibedakan dari yang lainnya dengan dalil. Mereka memperkirakan gambaran dari amalan yang mereka perkirakan tersebut. Mereka juga memberikan beberapa ketentuan untuk setiap masalah yang menerima ketentuan, membatasi setiap masalah yang menerima batasan dan lain-lain.

Sementara di masa Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam–, para sahabat melihat bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam– berwudhu, kemudian mereka mengambil tata cara tersebut tanpa menjelaskan: ini rukun wudhu dan ini adabnya. Mereka melihat Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam– mengerjakan shalat, lalu mereka mengerjakannya sebagaimana shalat yang telah mereka lihat. Beliau melaksanakan ibadah haji, lalu para sahabat mengikuti bagaimana cara beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam– mengerjakannya.

Demikianlah kebanyakan cara Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan, tanpa menjelaskan wajib wudhu itu ada enam atau tujuh. Beliau juga tidak menjelaskan bahwa berwudhu wajib dilakukan secara berturut-turut hingga ditetapkan hukum wudhu tersebut sah atau batal, kecuali yang dikehendaki Allah –Subhanahu wa Ta'ala–. Dan para sahabat jarang sekali bertanya-tanya tentang perkara-perkara seperti ini.

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam– tentang masalah yang terjadi saat itu, dan beliau memberikan jawabannya. Orang-orang menyampaikan berbagai kasus kepada beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam–, dan beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan penyelesaian terhadap kasus mereka tersebut. Beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam akan memberikan pujian, jika melihat ada di antara mereka yang melakukan kebajikan; dan mengingkari, jika melihat mereka melakukan suatu kemungkaran. Fatwa yang ditanyakan kepada beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam–, keputusan terhadap sebuah kasus, atau pengingkaran beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap sebuah kemungkaran, semua itu merupakan perkara yang muncul di tengah-tengah masyarakat pada saat itu. Para sahabat melihat ibadah-ibadah, fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan beliau –shallallahu 'alaihi wa sallam– terhadap suatu kasus. Kemudian mereka menghafal dan memahaminya. Mereka mengetahui bahwa tiap-tiap sesuatu memiliki tinjauan dari sisi qarinah (pertautannya). Karena itu, sebagian mereka ada yang mengambil kesimpulan hukum ibahah (boleh), sebagian lainnya menyimpulkan mustahab (dianjurkan) dan sebagian lainnya menyatakan mansukh (sudah dihapuskan ketentuannya) dengan alasan-alasan yang memadai yang mereka miliki. Tidak ada pegangan yang mereka miliki kecuali perasaan tenang yang mereka rasakan, tanpa menghiraukan metode-metode istidlal (pengambilan dalil-dalil, sebagaimana dilakukan para ahli fiqih). Demikianlah kondisi para shahabat hingga berakhir masa Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam. ]

__________________________________________

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah [judul asli: Shahih Fiqh As Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al A-immah], karya Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, cetakan III At Tazkia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.